ANALISIS CERPEN KISAH SEORANG ANAK KORUPTOR Oleh ANDREAN ANANDA PUTRA.

Kisah Seorang Anak Koruptor

 

Hari ini Joni hanya mampu mendapatkan sedikit uang receh. Padahal di hari biasa Ia mampu mendapatkan lebih dari recehannya hari ini. Dari ribuan kendaraan yang lewat di sepanjang jalan, hanya sedikit yang mau merelakan uang mereka untuk anak kecil itu.

 

Keringatnya terus mengalir, sambil berjalan menyusuri trotoar kota, Joni hanya mampu tersenyum melihat uang yang ia dapat hari ini. “Mungkin belum rezeki.” Ujarnya di dalam hati.

 

Tangan kanan yang terus saja memegang erat sebuah gitar kecil, gitar yang merupakan pemberian temannya itu selalu menemani Joni melewati hari-harinya. Semangatnya tak pernah habis untuk mencari uang, dari mengelilingi kota, naik turun kendaraan umum, bernyanyi dari mobil satu ke mobil lainnya, menaiki bus-bus kota, bahkan sampai diganggu preman-preman jalanan, semua itu Ia lakukan setidaknya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya saat Ibunya sudah tidak ada uang lagi. Penghasilan berdagang yang tidak menentu membuat Joni tersadar untuk berusaha membantu ibunya meski hanya menjadi pengamen jalanan.

 

 

 

Satu tahun lalu…

 

“Ayah mau dibawa kemana Bu?.” Tanya Joni dengan heran kepada Ibunya. Sambil terus memandangi Ayahnya yang dalam keadaan kedua tangan diborgol kemudian dibawa ke mobil tahanan oleh dua orang polisi.

 

“Ayahmu harus ikut mereka Nak, ternyata Ayah tersandung kasus korupsi.” Dengan penuh rasa kecewa Ibunya harus mengatakan hal itu kepada Joni.

 

“Korupsi?.” Joni hanya mampu menahan kekecewaannya, ternyata sosok yang selama ini sangat Ia kagumi kini harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya sendiri.

 

“SI RAMAH TAMAH TERSANDUNG KORUPSI TRILIYUNAN RUPIAH, BENARKAH?”

 

Sepintas headline koran hari ini mengganggu pemandangan Joni yang hendak menuju sekolah. Sudah seminggu semenjak penangkapan Ayahnya. Dengan berani Joni pergi ke sekolah walaupun rasanya begitu berat meninggalkan Ibunya di rumah dalam keadaan seperti itu. Dimana semua Stasiun TV sedang menyorot Ayahnya, akibat perbuatan keji yang beliau lakukan. Pagi yang damai kala itu tidak pula membuat suasana hati joni ikut damai. Tetapi, semakin berkecamuk hingga Joni tertekan dibuatnya. Ia ambil seberkas berita hari ini dan mulai meratapi tentang semua hal yang terjadi padanya.

 

“Mengapa Ayah tega melakukan hal ini?. Apa salah kami.” Ucapnya lirih, tangannya kuat menggenggam koran itu, tak terasa air matanya kini bercucuran mewakili kesedihan dan kegundahan hatinya.

 

Kemudian ia merogoh saku celananya hendak mengambil uang untuk membeli satu berkas koran itu. Setelah membayar kemudian ia langsung menuju ke sekolah karena mata hari telah menunjukan sinarnya.

Sekolah sudah mulai ramai yang datang, Joni hanya terdiam di sepanjang langkahnya menuju ke kelas. Hingga…

 

BUG…

Karena bingung dan tak fokus, ia tak menyadari bahwa pintu kelasnya tertutup. Joni kemudian mengembalikkan fokusnya dan membuka pintunya. Namun, malah terkunci dari luar.

 

“Aduh…” Kepala seperti terpentok benda di depannya. Ternyata teman-temannya sengaja mengunci pintu kelas ketika ia hendak masuk.

“Hei kalian kenapa pintunya ditutup, biarkan aku masuk?!!!” teriak joni sambil mengetuk keras pintu kelas.

“Heii… anak koruptor pergi kamu, kita gak mau punya teman sekelas yang ayahnya seorang koruptor.” Teriak salah satu dari mereka.

“Tapi, Ayah Joni bukan koruptor!”. Jawabnya keras, tanganya terus saja memukul-mukul pintu di depannya berharap teman-temannya membukakan pintu.

“Kalau Ayah kamu bukan koruptor kenapa ayah kamu masuk TV dan disidang di pengadilan.” Tanggap lagi teman Joni dari dalam kelas.

“Tapi Ayahku bukan koruptor!!!”. Hanya jawaban yang sama yang bisa Joni lontarkan. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Perasaannya kembali tak karuan.

“Udah joni kamu pulang saja, kalau perlu pindah saja dari sekolah ini. Kami gak mau kamu terus ada di sini.”

 

Joni hanya bisa meringis, dadanya sesak dan air matanya terus mengalir. Ia tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti itu. Di usianya kini ia harus berjuang diatas cemoohan orang-orang yang dulu mengaku menyayanginya. Ia juga sadar segalanya yang pernah ia alami sebelum Ayahnya terkena kasus adalah kejadian semu semata, karena pada kenyataanya semua telah mengkhianati joni dan melupakan joni begitu saja walaupun dulunya mereka semua adalah orang-orang terdekat baginya.

 

Mungkin ini adalah pedihnya kehidupan keluarga yang salah satu diantara mereka menjadi tersangka korupsi. Akibat keserakahan mereka yang dengan tega mengambil yang bukan hak mereka. Hingga pada akhirnya orang-orang yang tidak ikut terlibat menjadi ikut merasakan efek buruknya. Keluarga menjadi hancur, keharmonisan yang diimpikan hanya sebatas angan saja. Semua yang pernah dirasakan, segala kesenangan dari harta yang berlimpah itu semua hanya palsu. Sisanya hanya cemoohan dan rasa terasingkan yang didapatkan, seperti seekor serangga yang terbang tak tahu arah dan tujuan karena sarang mereka telah rusak dan hancur. Kini hanya bangkit dari diri sendirilah yang mampu mengembalikan semua, memulai dari awal lagi dan membuktikan ketika yang terasingkan bisa bangkit setelah jatuh dari dasar jurang yang dalam.

 

 

 

 

Kehidupan Joni dan Ibunya kini mulai berubah. Semenjak Ayahnya masuk sel tahanan, Joni sudah tidak tinggal lagi di rumah lamanya karena semua aset yang dimiliki Ayahnya telah disita oleh pihak yang berwajib. Batin Joni masih belum siap menerima semua ini, Ia masih benar-benar kecewa terhadap Ayahnya sendiri. Tapi Ia mulai mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak membenci Ayahnya sendiri. Kini Ia hanya mampu menikmati hidupnya yang baru. Tanpa kemewahan. Ia tak pernah lagi melihat mainan-mainan mahal yang bisa kapanpun Ia mainkan. Saat ini yang bisa Ia lihat di depan rumah kecilnya adalah sekumpulan anak jalanan yang sedang asik bermain bersama. Hingga di antara mereka ada yang menghampiri Joni dan berbaik hati memberikan sebuah gitar kecil.

 

“Kamu sedang apa, lebih baik ikut ngamen dengan kami. Memang kamu tidak kasihan melihat Ibumu bekerja cari uang hanya seorang diri?.” Ucap seorang anak jalanan yang sering disapa Obi itu.

“Aku tidak bisa menyanyikan lagu apapun, cara memainkan alat musik ini saja aku tidak mengerti, bagaimana aku bisa ikut dengan kalian?.” Jawab Joni dengan bingung, namun tangannya tetap menggenggam gitar pemberian Obi dan mengamatinya perlahan.

“Kamu pasti bisa, nanti aku ajarkan. Supaya kita bisa cari uang bersama-sama. Ayo ikutlah bersamaku pasti menyenangkan.” Sambil tersenyum ditariknya tangan Joni untuk ikut bersama Obi mencari uang hari ini. Obi memang sudah lama tinggal di sana, Meski Obi masih anak kecil seumuran Joni, Obi sudah tahu bagaimana caranya mencari uang dan belajar tentang pahitnya sebuah kehidupan. Pada awalnya Joni masih merasa bingung hingga lama-kelamaan Ia mulai terbiasa dengan aktivitas barunya itu.

 

Hari demi hari dilewati Joni bersama Obi, menghadapi hiruk pikuk jalan yang silih berganti tak pernah kelihatan sepi dilalui kendaraan. Namun Ia tetap berusaha bersyukur, Meski kini usianya masih dibilang muda siswa kelas 5 SD itu perlahan mulai mengerti tentang sebuah perjuangan hidup.

 

“Alhamdulillah dapat uang banyak hari ini. Akan aku tabung untuk membahagiakan Ibu.” Celetuknya ringan sambil menghitung lembaran-lembaran uang yang ada di depannya.

“Memangnya kamu tidak lelah seharian keliling kota.” Ibu Joni tak sengaja mendengar ucapan Joni dan menghampirinya.

“Tidak bu, setiap hari aku bersama Obi. Jadi kami tidak pernah merasa lelah. Justru sangat menyenangkan.” Jawabnya dengan ceria.

“Ibu tak pernah memaksakan kamu untuk membantu Ibu cari uang, Ibu hanya berpesan supaya kamu harus tetap hati-hati di manapun kamu berada karena di luar sana sangat berbahaya nak.” Ibu Joni mulai menunjukan kekhawatirannya.

“Iya bu, pasti Joni akan tetap hati hati. Janji deh! Kan anak Ibu ini jagoan yang hebat.” Jawab Joni sambil tersenyum dengan lugu. Sesaat terdiam sejenak, Di dalam benak Ibu Joni, Ia bangga memiliki anak seperti Joni. Baginya Joni adalah satu-satunya pengobat paling mujarab dikala Ibunya sedang sedih. Hingga lamunan itu terpecah saat Joni mulai bertanya.

 

“Bu, bagaimana kalau Joni berhenti sekolah saja?, supaya Ibu tidak terlalu terbebani untuk biaya sekolah Joni. Biaya sekolah Joni kan mahal sekali.” Dengan jelas kalimat itu keluar dari mulut Joni.

“Kok bicaranya gitu. Ibu masih bisa kok masih kuat banting tulang demi kamu, supaya kamu sukses. Kamu tidak perlu berhenti sekolah, Ibu mau melihat anak Ibu ini menjadi mahasiswa terbaik. Katanya mau bahagiakan Ibu. Iya kan?.” Ibu Joni sangat kaget mendengar anaknya mampu berbicara seperti itu.

“Nanti Joni menyusahkan Ibu.”

“Joni tidak pernah menyusahkan Ibu, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Ibu. Ibu tidak mau kamu seperti Ayahmu. Yang sudah mencoreng nama baik kita. Jadilah yang terbaik untuk Ibu.” Jawab Ibu Joni sambil memeluk anaknya.

“Baiklah bu, aku janji sama Ibu supaya tetap rajin belajar dan akan menjadi kebanggaan Ibu.”

“Bagus! Itu baru jagoan Ibu.”

 

“Bagaimana keadaan Ayah bu?. Sudah lama Joni tidak menengok Ayah. Ibu jangan membenci Ayah ya, bagaimanapun Beliau tetap Ayah Joni. Joni sayang sama Ayah.”

“Kamu memang anak Ibu yang luar biasa nak. Pokoknya bagaimanpun keadaan Ayahmu di sana, Ibu hanya mampu berdoa untuk Ayahmu semoga Ia sadar bahwa tindakkannya itu salah dan menjalani hukuman yang sesuai akibat perbuatannya.” Ibu Joni hanya mampu tersenyum dan mulai memeluk kembali anak kesayangannya itu.

 

Harinya mulai dijalani kembali, namun Ia merasa heran mengapa Obi sudah hampir 5 hari tidak ikut bersamanya ngamen di jalanan. Hingga Joni mendengar sebuah berita yang mengatakan bahwa rumah Obi ternyata digusur oleh Aparat Pemerintah 3 hari yang lalu karena akan dibangun rumah sakit di sana, kini Obi sudah tidak tinggal lagi di lingkungan itu dan sudah menetap di tempat lain. Joni hanya mampu menarik nafas panjangnya. Baru saja Ia mendapat teman yang bisa membantu memberi semangat dikala Ia sedang putus asa. Ia harus kehilangan kembali, sudah tidak ada lagi dan Ia mulai mengulangi hidupnya seorang diri.

 

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia Joni. Joni semakin menunjukan kemajuan pada kehidupannya. Berkat kerja keras dan ketekunan Joni dari kecil mencari uang perlahan menghasilkan buahnya. Setelah lulus SMA, Ia mulai berusaha mencari pekerjaan. Hingga pada akhirnya Ia diterima di sebuah toko percetakan besar. Dengan tekun Ia mulai menjalani pekerjaannya, setiap gaji yang diterimanya sedikit Ia sisakan untuk ditabung. Dari kecil Joni memang sudah mulai membiasakan dirinya untuk menabung, karena takut ada kebutuhan yang mendadak suatu saat nanti. Joni juga sudah bisa membiayai kuliah dari hasil jerih payahnya, karena Ia tahu Ia tidak boleh terus menyusahkan Ibunya. Kuliahnya pun berjalan dengan lancar. Sampai pada pencapaian pendidikannya di S1, Ia berhasil menjadi Mahasiswa terbaik sesuai harapannya. Ibunya sangat bangga terhadap prestasi yang diraih Joni. Kini cita-cita Joni sudah mulai terwujud satu-persatu membahagiakan Ibunya.

 

Setelah berhenti dari pekerjaannya Joni berinisiatif membuat usaha sendiri. Karena kebetulan Ia lulusan sarjana di bidang seni dan Grafika, Ia mulai mengembangkan bakat dan ilmunya di bidang seni pula yaitu usaha percetakan di seni desain grafis. Tentunya tak pernah lepas dari dukungan dan doa Ibunya. Hingga kini, Joni sudah mampu memiliki 3 toko percetakan di beberapa tempat didaerahnya.

 

Joni sangat mensyukuri pada apa yang Ia dapatkan selama ini. Dari setiap perjuangan hidup yang Ia lalui, semua itu Joni maknai sebagai pelajaran yang sangat luar biasa. Ia sangat bahagia bersama Ibunya, meski seringkali Ia teringat pada sosok ayahnya.

 

Ketika sedang asik mengecek toko,

“Joni?.” Dari kejauhan terdengar suara parau seorang laki-laki memanggil namanya.

 

Sesaat Joni menoleh ke belakang, di depan Tokonya ia melihat sosok yang tak asing sekali baginya.

 

“Joni ini Ayah nak, maafkan Ayah telah mengecewakan kamu. Ayah tahu kamu pasti kecewa dengan Ayah.” Dengan tak pandang keadaan lagi, Ayah joni langsung memeluk erat Joni.

“Ayah sudah bebas?. Alhamdulillah. Ayah tak perlu meminta maaf, Joni sudah memaafkan Ayah. Asalkan Ayah tidak mengulanginya lagi. Joni sangat merindukan Ayah.” Tak disangka Joni mulai menitikkan air matanya dalam pelukkan Ayahnya. Dari dalam toko, Ibu Joni pun keluar melihat suaminya sudah bebas, Ibu Joni pun merasa senang dan menghampiri mereka. Mereka akhirnya saling melepas rindu.

 

Kini keluarga mereka sudah lengkap kembali. Joni pun sangat bahagia ditengah kesuksesannya kini Ayahnya juga ada di sampingnya untuk ikut mendoakan setiap usaha yang Joni lakukan. Tak pernah ada kata menyerah lagi dalam hidup Joni. Mungkin dulu Ia pernah terpuruk atas perbuatan Ayahnya, namun Ia terus belajar dan berusaha karena Ia tahu setiap manusia pasti mampu mendapatkan sesuatu yang Ia inginkan kalau Ia mau berusaha dan terus bekerja keras tanpa mengambil jalan pintas yang mampu menjerumuskannya ke arah yang salah.

 

 

Haji

 

Karena bukan cerita fiksi, maka tidak mungkin Haji Jupri kawin dengan Marsiti. Tapi entah kenapa, kisah ini kemudian berkembang menjadi ruwet. Bahkan, menjadi bahan perdebatan tak habis-habis di warung-warung, tegalan, pasar, hingga masjid. Mulanya sih hanya iseng. Suatu hari Pak Haji tanya pada Kang Sirin, “Apa kamu punya bibit yang bagus, Rin?” katanya. Tentu, Pak Haji memang paling akrab dengan Kang Sirin. Bukan hanya karena Kang Sirin adalah langganan becaknya selama bertahun-tahun, tapi karena ketulusan dan keriangan Kang Sirin yang membuat Pak Haji betah.

 

“Kebetulan punya, Pak Haji. Betul lho, yang ini pasti sip. Saya bisa mintakan fotonya.”

 

Pak Haji tertawa. Nah, dari sinilah keruwetan cerita sebenarnya sedang dimulai.

 

Kang Sirin telah hampir sepuluh tahun berkeliling di atas becaknya. Mengantar para langganan, terutama para pedagang di Pasar Kecamatan. Seperti halnya Pak Haji, para langganan rata-rata betah ngomong-ngomong dengan Kang Sirin. Mungkin lantaran ia gesit, atau Kang Sirin memang selalu berpakaian bersih, gampang disuruh, ataukah sifat Kang Sirin yang (meskipun tak lulus SD, tak bisa baca huruf latin) tapi selalu dengan wajah riang bisa mengimbangi omongan apa pun. Nah, tentu, dari berbagai “pengetahuan” omong-omong beragam langganan itulah, maka sumber informasi Kang Sirin semakin beragam dan berkembang. Kalau tidak percaya, cobalah datang ke Pasar Kecamatan. Jika ada tukang becak dengan pakaian bersih, yang hapal nyaris seluruh gang di delapan desa, bahkan hapal hampir seluruh nama (mungkin watak orang-orangnya) maka itulah Kang Sirin!

 

Nah, tiga minggu berselang itulah, ia mendapat langganan baru, yang membuatnya nyambung dengan maksud Pak Haji. Langganan baru itu bernama Marsiti. Tinggal di Desa S., dan konon dia adalah pindahan dari Kota B. Lha kok ya kebetulan, Marsiti juga ngomong hal yang sama. Ia ingat persis ketika itu Marsiti juga bergurau, “Kang Rin, mungkin enak ya kalau punya suami haji?”

 

“Yang bener, Mbak Mar. Apa Mbak Mar belum punya suami?”

 

“Ah, siapa yang mau bersuamikan aku, Kang?”

 

“Lho, Mbak Mar itu cantik kok,” Kang Sirin tertawa. “Maksud saya, ada yang top lho. Tapi duda.”

 

“Siapa?”

 

“Haji Jupri.”

 

“Haji Jupri yang terkenal itu? Wah, ya jangan. Ada-ada saja.”

 

“Eh, siapa tahu jodoh. Omong-omong, kenapa Mbak Mar cari yang haji?”

 

“Entahlah. Kang Sirin ini, aku cuma guyon. Awas lho kalo bilang-bilang. ?Kan malu.”

 

“Ya enggak lah. Dijamin pokoknya. Tapi omong-omong, apa Mbak Mar serius nih?”

 

“Nggak. Cuma guyon, bercanda! Sungguh.”

 

Tapi siapa ngira, dari semula cuma bercanda, akhirnya berkembang menjadi rumit? Ini lantaran Kang Sirin merasa nyambung. Merasa klop. Saat Pak Haji bilang tentang bibit, mengeluh tentang perempuan, maka ia langsung bertindak dengan gesit. Nyamperin Marsiti, ngasih penjelasan ini-itu, lalu pinjem fotonya yang paling bagus. Marsiti memang cantik. Tentu saja semula Marsiti menolak, “Apa Pak Haji tahu tentang saya? Saya takut, Kang Sirin. Sungguh.”

 

“Pokoknya beres. Saya nanti yang akan meyakinkan Pak Haji. Dia orangnya baik. Pokoknya tidak bakal ngecewakan. Sudahlah Mbak Mar. Percaya sama saya,” dengan gayanya yang yakin Kang Sirin setengah memaksa. Tapi siapa sih, perempuan yang menolak usul buat dilamar Pak Haji? Satu hal, Pak Haji Jupri adalah orang terkaya di Desa L., hal lain tentu saja ia duda, terkenal pengajiannya ke mana-mana, dan dikenal berwajah ganteng. Meskipun tentu saja ia sudah sepuh, sudah tua dengan banyak cucu. Tapi kalau kebetulan jodoh, apa mau dikata?

 

“Jadi, betul Pak Haji tahu tentang saya, Kang Sirin?”

 

“Beres. Pokoknya biar saya yang jelaskan.”

 

Kang Sirin percaya. Marsiti pasti baik. Ia tak perlu menyelidikinya lebih jauh. Yang jelas ia cukup cantik, sopan, dan tidak kikir. Amat pas jika nyambung dengan Pak Haji. Lalu kenapa Marsiti takut? Ah, Kang Sirin hanya tertawa. Pastilah semua wanita akan segan dengan Pak Haji. Makanya Marsiti takut.

 

***

 

Lalu kenapa akhir kisah yang sesungguhnya cantik dan mulia ini menjadi rumit? Ini dimulai oleh satu lemparan batu pada kap becak Kang Sirin. Betul-betul satu batu, yang melayang, dan hampir membentur kepala Kang Sirin. Kalau saja ia tidak bernasib baik, entah bagaimana nasib Kang Sirin selanjutnya. Persoalannya bukan batu yang melayang, tapi kenapa tiba-tiba ada orang yang melemparkannya, dan itu dilakukan dengan terang-terangan? Di depan pasar, di mana banyak orang yang menyaksikan!

 

Desas-desus perjuangan Kang Sirin membuat banyak orang menjadi marah. Kang Sirin baru tahu bahwa tidak setiap kebaikan dibalas dengan hal-hal baik. Kebaikan Kang Sirin, dan ketulusannya berjuang untuk menyambungkan Pak Haji, ternyata berbalik menjadi kengerian. Bisa dibayangkan, jika tiba-tiba saja banyak langganan yang cemberut lalu cabut pindah becak lain. Bukankah itu mengerikan? Kang Sirin seumur-umur tidak pernah diperlakukan orang seperti menghadapi barang najis. Kenapa bisa Kang Sirin menyimpulkan bahwa dirinya dianggap najis? Karena orang yang pertama kali melempar batu itu bilang, “Kamu anjing!”

 

“Menjijikkan!”

 

“Kafir!”

 

Anjing? Menjijikkan? Kafir…. Benar-benar mengerikan. Dan orang-orang memang benar-benar memandang jijik. Kang Sirin tetap tak bisa menyimpulkan. Berhari-hari ia cuma melongo. Akhirnya tak berani keluar rumah. Tak berani narik becak. Bahkan, selentingan ia mendengar, orang-orang bakal mengepung rumah Kang Sirin. Subhanallah.

 

Apa dosa Sirin?

 

Padahal, tadinya ia cuma mau nolong. Kasihan Pak Haji. Semenjak ditinggal mati istri, ia jadi sepi. Bukankah menolong itu, kata orang tua, juga pekerjaan mulia? Dan kalau yang ditolong itu lantas memberi rezeki, jangan ditolak. “Menolak rezeki itu ndak baik, Rin,” begitu kata kakeknya dulu.

 

Kang Sirin menganggap Pak Haji orang susah. Sungguh, ia sering mendengar sendiri kesusahan Pak Haji. Setiap kali mengantar sehabis jualan di pasar, ia bilang, “Susahnya kalau orang sudah terlanjur dihormati, Rin. Mau minta tolong carikan istri, bilang ini dan itu, rasanya risih. Jangan-jangan malah dianggap lucu. Disangkanya kalau sudah haji, jadi imam di masjid, diundang ke sana ke mari, sudah sempurna begitu? Aku ini ya laki-laki normal lho Rin…. (Jangan bilang-bilang ya? Nanti dikiranya ndak tabah, repot jadinya). Dipikir-pikir, kok ya mendingan kamu lho Rin. Bebas cari-cari informasi, tanya-tanya, ke sana ke mari, ndak mungkin ada orang cerewet. Anak-anak lagi, sudah gede, sudah pada berumah tangga, kok ya maunya menangan terus. Ada yang bilang malu, ngisin-ngisini, malah yang bungsu bilangnya ndak jelas. Macem-macem lah Rin!”

 

Sudah jelas ?kan? Kalau orang semacam Kang Sirin saja tiba-tiba bisa jadi tumpuan keluhan Pak Haji, bukankah itu satu anugrah? Sedang Pak Haji orang yang paling terhormat. Amat mulia jika Kang Sirin bisa menolong. “Kang Sirin” lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal orang sebagai ustaz. Nah, karena Kang Sirin tahu dan akrab dengan Marsiti, lalu memandang Marsiti itu baik, apa salahnya menawarkan Marsiti? Toh, kalau Pak Haji tidak mau ya tidak apa-apa. Kang Sirin tidak akan maksa. Edan po? Kang Sirin kok bisa memaksa Pak Haji. Jelas ndak mungkin. Tapi kini, Kang Sirin merasa dipentung kiri kanan.

 

“Aneh ya Pak Haji itu. Minta tolong malah sama tukang becak. Lantas, kita-kita yang pinter ini dianggap apa? Coba kalau terus-terang sama kita, bisa rame-rame ?kan dicarikan yang bagus, yang pantas. Bukan Marsiti.”

 

“Melihatnya saja sudah muntah.”

 

“Sirin saja yang goblok. Sudah enggak bisa baca, kere, eeee mau macem-macem. Kafir!”

 

“Betul Wak, harus dikasih pelajaran. Wong gendeng, orang gila, mudah-mudahan disamber gledek.”

 

“Ialah Gusti Allah ngasih cobaan sama Pak Haji. Padahal, apa sih kurang baiknya Pak Haji? Kok sama Sirin saja ketipu.”

 

“Ini pasti ada dalangnya. Ndak mungkin kalau hanya inisiatif Sirin. Aku menduga kalau ndak kelompok haji mbelgedes Kampung Ciparay ya pasti kelompok Jamaah Pangoragan yang zikirnya jingkrak-jingkrak itu. Mereka sengaja membuat jebakan untuk menjatuhkan kewibawaan Pak Haji. Pokoknya hal ini harus diselidiki hingga tuntas. Aku ndak terima Kampung kita dipermalukan.”

 

“Kuncinya ya Sirin itu.”

 

“Digebuk saja. Sekalian beres. Kepalang tanggung!”

 

***

 

“Orangnya cantik ?kan, Pak Haji? Kulitnya putih. Tidak gemuk tidak kurus. Orangnya ramah, juga sopan.”

 

“Punya anak tidak Rin?”

 

“Tidak Pak Haji. Suaminya dulu meninggal muda. Pokoknya sip Pak Haji, orangnya juga baik.”

 

“Syukurlah kalau tidak punya anak. Itu yang diharapkan. Sedikit berumur tak apa. Yang penting rumah ada yang ngurus. Tidak terlalu repot kalau habis jualan di pasar. Tapi, o ya, kira-kira apa dia mau dikerudung?”

 

“Mungkin mau Pak Haji. Dia juga salat kok.”

 

Kang Sirin mesam-mesem ketika diselipi uang lima puluh ribu. Tak baik menolak rezeki meskipun besar. Hanya ditemani Pak Kadir, kerabat jauh Pak Haji yang amat dipercaya, mereka bertiga berangkat melamar. Tak perlu ribut-ribut. Dan pada hari berikutnya, Kang Sirin ikut jadi saksi. Seumur-umur jadi manusia, pada kali itulah Kang Sirin bisa merasa jadi orang penting.

 

Daldiri, anak Pak Haji paling bungsu yang masih SMA, malah menolak ketika diajak:

 

“Mau ikut ke Sindang tidak Ri?”

 

“Wah, besok ulangan je, Pak!” Daldiri sama sekali tak terpikir kalau hari itu bapaknya kawin. Biasanya, paling banter hanya mengisi pengajian. Sehari setelahnya, ketika Pak Haji tiba-tiba membungkusi pakaian, barulah Daldiri heran sembari tanya, “Mau ke mana sih Pak?”

 

“Kemarin kamu diajak tidak mau. Bapak sudah kawin, Le.”

 

Kawin? Itulah yang membikin Daldiri blingsatan, geger. Dalam situasi gawat semacam itu, Daldiri lari ke sana ke mari. Tilpun ke sana ke mari. Lapor pada ketiga kakaknya: Magelang, Solo, dan Temanggung. Jam tiga dini hari, mereka semua berdatangan dan langsung menuju Sindang. Pengantin lelaki diculik! Tanpa ampun. Digeret. Dipaksa untuk ikut. Di Pesantren Bambu Kuning Temanggung, anak-anak langsung mengepung dan menginterogasi. Menyemburkan seluruh kekecewaan, penyesalan, dan keberatan-keberatan yang tak boleh dibantah!

 

“Yang betul saja tho Le kalau njemput itu. Bikin geger dan kecewa.”

 

“Justru Bapak itulah yang gak bener. Sudah tua kok ya kurang waskita. Kurang pertimbangan. Asal tangkap tanpa perundingan. Mbok ya ngasih kabar atau gimana, apa sih susahnya? Begini-begini juga anakmu itu dihargai, dihormati. Coba kalau kedengaran santri-santriku di pesantren ini, apa ya ndak memalukan? Bikin lebih geger? Pokoknya tidak ada alasan, detik ini juga harus dicerai! Saya carikan yang bagus. Yang pantas. Yang iman. Kawin kok sama lonte.”

 

Jangankan Pak Haji, Kang Sirin saja yang jadi pusat cerita tidak tahu kalau Marsiti itu bekas lonte. Ia kenal dan akrab sama Marsiti karena juga langganan becak. Malah kalau dihitung-hitung, ya Marsiti itulah langganan luar kampungnya yang paling jauh. Makanya kalau banyak orang memaki, Kang Sirin sesungguhnya ndak terima. Demi Allah Kang Sirin tidak bermaksud menjerumuskan Pak Haji. Kang Sirin saja barangkali, jika ketemu Marsiti sekarang, kepingin rasanya meludah. Memaki-maki Marsiti dengan kata-kata setan dan najis seperti yang diucapkan orang-orang. Tapi entah bagaimana alur dan konflik ceritanya, akhir-akhirnya Kang Sirin kok yang malah jadi suka sama Marsiti.

 

***

 

Konon, menurut data-data yang bisa ditelusuri, Kang Sirin memang bukan tipe orang cerdas. Pada suatu hari Kang Sirin ketemu Marsiti berwajah pucat, berbadan kurus, dan selalu batuk-batuk. Betul-betul amat berubah, sehingga membuat Kang Sirin pangling. Tapi begitu yakin bahwa itu Marsiti, sontak ia ingin meludah. Memaki Marsiti dengan kata-kata “kamu anjing” seperti yang hingga sekarang diucapkan orang-orang pada dirinya. Bahkan ingin Kang Sirin menggampar muka Marsiti dengan batu.

 

Tapi Marsiti malah belum-belum sudah nangis. Entah rayuan gombal, entah elusan iblis, yang jelas iman Kang Sirin bergetar. Ia tiba-tiba menjadi iba. “Kang Sirin”‘ lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal sebagai ustaz. Bukan lagi makhluk berwujud Kang Sirin kalau melihat adegan yang begitu dramatis itu tidak langsung jadi tragis. Tiba-tiba ia ingin ikut menangis. Dan sejak pertemuan itulah hati Kang Sirin selalu berdesir dan berpikir. Barangkali inilah yang disebut cinta? Entahlah. Yang jelas semua orang semakin jijik jika bertemu Kang Sirin. Semua orang berpikir, kok masih ada orang bebal yang oleh Tuhan dibiarkan hidup? Sudah jelas ditipu, masih sempat-sempatnya berpikir menolong.

 

“Apakah kalau lonte tobat, tidak boleh kawin?” begitu kata Marsiti. “Bukan berarti setiap lonte tobat itu selalu naik pangkat menjadi germo. Sudah lima tahun Siti berhenti jualan daging begituan. Karena tobat itu bisa tenang kalau Siti kawin, maka Siti kepingin kawin. Siti emoh kawin sama gento. Kawin juga harus dengan orang baik, biar Siti ikut baik. Sukur kalau suami Siti bisa ngaji, biar Siti bisa belajar ngaji. Makanya…,” Marsiti berhenti. Menyusut air mata, “Datangnya tawaran Pak Haji ibarat laron ketemu petromaks. Siti mengira itulah jawaban dari doa-doa tahajud Siti yang tak pernah berhenti untuk meminta. Meminta jadi orang baik. Meminta jodoh yang baik. Siti tak nyangka kalau ternyata akibatnya bisa dikutuk, dipisuh, disebut setan. Dulu banyak orang yang masih memaklumi Siti. Tapi kini….”

 

Kini Kang Sirin yang bengong. Kini Kang Sirin jadi punya pikiran sakit karena dirinya juga disebut setan. Kalau setan memang harus ketemu setan, mau apa lagi? Jelas setan yang satu ini butuh pertolongan.

 

“Jadi Mbak Siti ingin bisa mengaji? Dulu Kakek Kang Sirin juga mengajar ngaji. Dan Kang Sirin belajar mengaji di tempat Kakek. Kang Sirin bisa baca Alquran. Itu semua yang diajarkan Kakek Kang Sirin. Kini Kakek Kang Sirin sudah meninggal dunia. Jadi….” Jadi beruntunglah Kang Sirin dulu punya kakek dengan ilmu-ilmu yang baik. Beruntunglah Kang Sirin menjadi santri yang mengerti.

 

Bayangkan, jika Kakek Sirin dulu sekolah, mungkin sudah dikenal jadi orang pandai. Pandai mengajar, jadi kiai atau setidaknya guru. Jika Kakek Sirin dulu kaya, mungkin sudah jadi haji. Karena haji, maka Kakek Sirin yang jadi imam di mesjid. Seperti Haji Jupri.

 

 

Beringin Cinta – Cerpen Joni Ariadinata

Posted by Kumpulan Fiksi

Oleh  :  Joni Ariadinata

 

Langit menepi. Malam pasti basah. Suara sirine melengking dalam jauh: lamat, dan menyakitkan. Irene memindahkan chanel televisi, berisik, berpindah-pindah; lalu ia matikan. Klik. Sepi. Beranjak ke kamar, melihat kaca: tak ada senyum. Bunga kacapiring di luar jendela bergoyang-goyang. Malam pasti basah. Malam pasti…“Irene. Irene. Irene…”

 

Fajar merekah. Dia tak datang. Malam gelap selalu tempatnya rindu. Tapi pagi keburu datang: matahari terang tak ada hujan. Telepon di kamar Irene berdering nyaring. “Angkat Irene! Pagi belum hilang alatmu sudah berisik. Bangun, Cah Ayu!” Suara Mama menggedok pintu. Dok-dok, dok-dok. Trilili. Gadis manis terbang merajuk. Jendela terbuka blak-blak kreot dan Mang Udin tersenyum di bawah menyiram bunga. “Pagi Nona!” lugu. “Pagi,” sewotlah ia. Kring-kring telepon kembali berdering, lari, disaut Nona seenak hati: “Eh lu! Entar datang kagak? Hua-ha-ha. Jam sembilan yo? Di kantin. He’em! Yap. Sip. Sip. Gua belon mandiiii.”

 

“Bibiiiik,” renyah Irene memanggil di kamar mandi. Bik Zubaldah berlari zig-zag meletak sapu: “Ada apa Non?”

 

“Handuuuuk!”

 

Geleng-geleng. Bunga kacapiring digoyang Udin. Sisa bunga kemarin layu dan jatuh. Ada suara Parta memanaskan mobil. Berita televisi nyaring melengking di ruang tengah. Mama teriak. Bik Zubaldah mencuci, menakar rinso. Dan angin mendesau debu di luar jauh. Kabel-kabel listrik. Jalanan ramai sedari subuh. Tak pernah teduh.

 

“Mamaaah, Irene pergiii. Kuliah!”

 

***

 

“Di Florida, kampusnya sama. Ada banyak pohon, tapi bukan beringin, ha-ha! Di bawahnya, tentu, di bawah pohon saat istirahat, banyak mahasiswa berkumpul, baca buku dan diskusi. Di sini, juga sama. Ha-ha. Di bawah pohon, mahasiswa ngumpul-bergerumbul untuk ngibul dan main gaple! He-he…” Nyengingis. Segerombol orang nyekakak: “Apa lu pernah ke Florida? Mahasiswa kok rajin amat, pake baca buku di bawah pohon.”

 

“Nggak. Itu kata Taufiq Ismail di televisi.”

 

“Djancuk! Suka-suka dia lah. He, lu lihat Aida kemarin kan? Asu. Ujian baca puisi di kelas pake nungging segala. Jelas, mata Pak Dorbi tak bisa dikibulin. Pasti nilainya bagus. Alamat buruk dah. Siangnya, benar saja dugaanku: dia minta cerai! Putus. Gila. Lu dulu yang ngotot mau sama Aida kan? Ambil dah sekarang. Buntingin aja sekalian. Gua udah bosen. Sumpah!”

 

Bibit Gondrong penjual es dan kacang ikut nyekakak: aneh? Tidak. Beringin di tengah kampus tempat jualan paling betah; dan siapa nyana. Bibit Gondrong sepuluh tahun ngendon di tempat ini —nyaman tentu saja—; di seberang dua kantin yang makin rame. Bergaul dengan mahasiswa sastra: bangga kenal seniman top yang juga dosen bernama Pak Saudi. Sesekali ikut bikin puisi jelek, biar gaul. He-he. Maklum nyampur mahluk-mahluk aneh yang kadangkala suka nyumpah-nyumpah dosen, maka “jual kacang pun perlu strategi”. Sedikit nyentrik lah, biar akur. Sengaja rambut dibikin gondrong meskipun tetap rapi, sebab siapa tahu ada mahasiswi sastra yang tertarik lalu kawin lalu mau membantu jualan kacang di sini. Bukankah itu nyentrik? He-he. Makanya, Bibit Gondrong tak perlu rikuh untuk sekedar ikut nyekakak. Apalagi topiknya lucu. Biar ikut-ikutan dibilang nyentrik: laris, akrab merasa ikut top. Toh tetap saja tak ada apa-apanya dibanding mereka. Lihat saja: ada yang bangga celananya tak pernah dicuci dua tahun (he?), ada yang laki-laki gondrong tak perlu keramas, ada yang ngaku penyair maka jarang kuliah celana robek-robek jaket bau tak pernah bawa buku, ada cewek-cewek sukanya mamerin celana dalam belakang lalu… ada yang bunting dan tetap saja bunting tak mau kawin. Lengkap. Kayaknya, dunia memang makin asyik dan ribut. Amit-amit.

 

Burung pipit jatuh, plak! ditembak Amin Wangsitalaja, tersenyum bangga seperti jagoan (zaman model apa lagi ya Tuhanku yang lugu, ada mahasiswa ke kampus membawa senapan angin?). Angin menyiut dari arah perpustakaan, nun, duapuluh meter di atas puncak hampir menyentuh langit —sehingga orang dengan enggan menyebutnya “atas angin”—; dengan 257 trap tangga berkelok-kelok melewati tingkatan-tingkatan tempat terpenting semacam: (1) gedung bazar pakaian import dan alat kecantikan serta sedikit ramuan tradisional kejantanan Cina, yang dipadu dengan 8 meja biliard, mutlak milik saham para guru yang dipimpin langsung Bapak Rektor Sebagai Pembina; (2) klinik kesehatan serta kamar penerangan KB, poster-poster HIV terbalik, dan alat peraga berupa contoh-contoh kelamin sehat; (3) bersebelahan dengan klinik, adalah Cafe Mahasiswa Abadi Sukses Mandiri (CMASM), tentu, tanggal 27 Juli kemarin café legendaris itu dianggap sukses lantaran berhasil mengundang Inul lengkap beserta Orkes Dangdut Jonita pimpinan Haji Joni; kemudian (nomor 4) setingkat di atasnya adalah deretan kakus, melulu kakus: ada kakus mahasiswa, kakus dosen, kakus pegawai, tukang sapu, sampai satpam dan petugas parkir. Tentu bau tai. Nah, (nomor 5, tingkat gedung paling tinggi) persis di atas gedung kakus itulah letaknya perpustakaan, “Perpustakaan Atas Angin”, tak ada penghuninya, kecuali 2 petugas sial yang sudah peot ditimbun buku-buku yang seluruhnya rusak parah disantap tikus. Tak ada mahasiswa baca buku. Gedung perpustakaan itu lebih mirip tempat setan.

 

Angin aroma tai yang bertiup dari WC, menghembus pohon beringin, dan pipit kecil mati ditembak Amin Wangsitalaja. Tak ada belas kasihan. Anak-anak masih terus-terusan ketawa. Hidup untuk ketawa. Bunyi tulalat-tulalit SMS. Cup-cup mmmuuuah! Sinar matahari yang payah, debu-debu, kantin yang makin ramai.

 

Kantinku, kantinmu, kantin kita. Dikelola guru. Depan kampus, persis setelah pintu gerbang seperti lazimnya kantin-kantin di seluruh kampus seantero negeri yang kayaknya mewajibkan mahasiswanya makan sebelum masuk gedung belajar. Mungkin takut kalau mahasiswanya kelaparan ketika belajar sehingga mengganggu kecerdasan. “Makan sebelum belajar adalah baik,” begitu kata guru setiap memulai pelajaran kuliah. Tentu. Dan selayaknya pasar makan yang bermartabat, debat-debat penting sering terjadi di sana: lebih ribut dan agresif dibanding ruang belajar. Wow! Sambil ketawa. Tak harus ada logika. Terus ketawa. Perempuan lelaki, berkeciplak mulut ngomongin pantat mobil kek, atau apalah: handphone, sepatu, parfum ketek, susu susi, dlsb, dlsb, huuuah.

 

Angin tai masih terasa. Matahari payah nyenggol sedan jeep kijang-krista dan van KIA dari korea. Petugas parkir ngantuk setelah nyedot Dji Sam Soe. Pipit mati diinjak Bardi lantaran kesusu ngejar Intan Dewi Permadi yang lari lantaran marah lantaran malam tadi Bardi lupa nyium padahal Intan Dewi Permadi sudah minta dua kali padahal hari ini ada ulangan. “Heeei pacar!! Tungguuu… Akulah Bardi lelaki yang selalu hadir dalam mimpimu. Aku tulis seribu puisi dalam terik matahari! Dan bulan yang menghirup rindu dalam titik kebekuan batu. Aku cinta padamuuu…” Penyair! Penyair! Orang-orang bertepuk. Bardi terus berlari, merasa hebat seperti penyair. Pacar dipanggil tak peduli, ia ngebut naik krista terbaru. Mungkin berniat bunuh diri. Debu-debu mengepul. Mahasiswa lagi bersorak: Penyair! Penyair! Angin tai, dan matahari payah, ruang kuliah nun jauh di sana. Satmoko terlalu banyak merokok dan meludah. Ada Marno merobek kertas ulangan. Para guru sibuk mengajarkan sesuatu di kelas: entah puisi entah teori, yang jelas para guru sudah menghafalkannya sejak dua puluh tahun lalu.

 

***

 

Lelap malam lampu-lampu di jalan. Kota tak juga sunyi. Irene tiba disambut gonggong Doli. Seharian entah, pergi kuliah mampir ke Ratna. Jam dua belas. Di kantin ketemu Dodi. Masuk ruang belajar bersama Dodi. Kencan jam tiga, jam tujuh menyusur pantai. Jam delapan makan di kafe, ikutan nyanyi tralala-trilili. Beli kaos kaki, tisue, dan memilih CD. Lalu keliling, mampir lagi di Ratna. Tengah malam Ratna cuap-cuap, katanya Martin payah, tahu ultah makan malam hanya di loby Sahid.

 

Ia tanya apakah Irene telat haid? Menggeleng.

 

Malam basah Irene pulang. Mama tidur Parto membuka gerbang dengan mata rapat. Sunyi di kamar. Melempar diktat, nyetel televisi. Ingat Ratna ia buka celana. Kring-kring tilpun, tulalat-tulalit SMS. Jam tiga. Besok pagi jam sembilan ada kuliah. “Oke, oke. Kita ketemu seperti biasa. Cup-cup.” Ia harus tidur. Tidur untuk membuang umur

 

 

 

 

 

 

Orang Kampung

 

WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.

 

“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”

 

“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:

 

“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”

 

“Aku tak tahu.”

 

“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…

 

TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri–giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”

 

Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”

 

Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”

 

“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”

 

“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”

 

Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”

 

“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”

 

LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”

 

Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”

 

Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”

 

“Ser… seratus, Juragan?”

 

Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”

 

HARI ujug–ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.

 

“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”

 

Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.

 

Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:

 

“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.

 

“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.

 

“Ya.”

 

“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.

 

“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”

 

“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!

 

“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.

 

“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.

 

“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”

 

Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?

 

 

Tuhan, bolehkah saya bunuh diri?

 

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur. Ada kemerosak angin. Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar.

 

“Mulailah.” Wardoyo berkata pendek. Menghisap asap kretek ke dadanya dalam-dalam. Ada ketegangan merayap. Ada kegamangan mengalir. Abah Marta sekali lagi menatap wajah menantunya. Kepala Wardoyo mengangguk. Setengah dipaksa setengah putus asa, tangan Abah Marta maju meraih gelas. Racun hangat, manis bercampur kopi, mengepul hangat dalam genggaman. Gemetar. Bibir tuanya gagal tersenyum. Tak tega mata Wardoyo melambungkan ke langit-langit, melihat dua ekor cecak berkejaran. Menunggu.

 

“Pahit!” Abah Marta menghentakkan cangkir. Mengusap bibirnya cepat. Kemudian meludah, getir. Setengah menit belralu, ia terhenyak. Wajahnya pucat. Panas merajam-rajam perutnya tanpa ampun. Menyeruak ke atas, membetot-betot usus. Lehernya tercekik: “Wardoyyy…” ia berteriak parau. Tubuhnya lantas menggeblag jatuh. Sebelum kakinya menyepak meja dan kursi yang ia duduki terbalik. Suaranya gaduh. Abah Marta berkelojot-kelojot sekarat. Matanya membeliak. Kemudian sunyi. Mati.

 

***

 

BERPULUH tahun Rantawi didera penyakit menakutkan. Jika hawa malam berubah dingin, maka sesuatu menggodam dadanya telak. Gumpal kedua belah paru-parunya terasa terhimpit beban berton-ton dan mencekik saluran udara menuju arah kerongkongan. Di saat itulah dunia bagi Eantawi amat gelap dan sumpek. Satu-satu helaan napas ia keluarkan dengan susah payah, menimbulkan bunyi cengik yang menjijikkan; bahkan bagi telinganya sendiri. Barangkali jika bukan karena Ratri, anak perempuan satu-satunya yang mengeluh putus asa, ia tak akan setega ini: membunuh diri dengan segelas kopi bercampur racun babi. Memang Rantawi dengan kehidupannya telah hancur luluh: dua hektare sawah, setengah bahu perkebungan kopi, satu pabrik penggilingan padi telah lepas satu persatu dari tangannya untuk pengobatan tanpa hasil. Tapi melintas pikiran untuk bunuh diri, tak pernah sedikit pun terjangkau. Terlebih karena Rantawi selalu menyimpan ketahanan iman dengan tak pernah lekang berdoa. Berharap satu kemukjizatanakan datang pada suatu ketika.

 

Tapi malam ini, Tuhan telah berlaku sangat tidak adil. Rantawi gamang atas kemauan Tuhan pada dirinya. Keluarga Mayor Sulaiman mendadak memutuskan pertunangan sepihak bagi anaknya, Ratri. Tentu, adalah pukulan batin teramat hebat karena mereka justru menyalahkan penyakit yang Rantawi derita sebagai alasan pokok. Asma disamaratakan dengan sejenis lepra! Mereka menuntut dikembalikannya harta panjer yang diserahkan melalui upacara sukacita.

 

”Mereka takut Ratri hanya akan menghancurkan karier dan masa depan Kang Basuki,” begitu kata Ratri.Dengan tangisan tersedak-sedak. “Seperti Bapak. Karena asma adalah penyakit keturunan.” “Begitu yakin, apa mereka sudah memeriksamu?” “Mereka menolak. Juga Kang Basuki,”Ratri putus asa. Tiga hari kemudian tak bisa ditanya. Ia hanya mengurung diri dalam kamar. Rantawi marah. Amat marah. Sungguh nasib telah memain-mainkannya seperti potongan gabus dalam amukan air deras. Tapi penegasan Keluarga Sulaiman memang beralasan. Satu-satunya yang patut dipersalahkan pasti hanyalah Tuhan. Begitulah ketika tangannya mantap menuangkan racun. “Kini, tak mungkin ada lagi pemuda yang mau mendekati Ratri, Ayah!” Rantawi memandang meja tertegun-tegun. Sejentik kegamangan menggelepar, tapi gumpal dendam menyumbatnya cepat. Irama jantung berlomba dengan kesunyian.Ya, ya, tidak akan ada pemuda yang mau menyunting ratri selama ia ada — begitu barangjali keinginan Ratri. Entah karena keturunan, entah karena beban bahwa kenyataan Rantawi tak akan bisa lagi hidup tanpa sebuah gantungan. Diseretnya langkah menuju kamar Ratri. Anak itu tertidur dengan badan melungkar, penuh beban. Manik-manik keringat bermunculan pada leher dan ujung kening; ia hampiri kemudian mengusapnya lembut. Seekor nyamuk yang hinggap di betis dijentiknya hati-hati. Dirapatkannya selimut, kemudian keluar. Kekosongan menyergap ketika air mata dari sudut matanya jatuh. Segelas racun babi yang terdiam di meja. Rantawi melangkah ke kamar Ijah, isterinya. Ijah dengan gurat ketuaan yang makin kentara. Tersenyum dalam ketenangan mata terpejam. Begitu tabah. Bertahun-tahun wanita di hadapannya harus bekerja sendiri menggarap sawah yang masih tersisa. Rantawi tak sanggup lagi berpikir dan merasa. Langkahnya mantap. Meraup gelas. Menenggaknya dalam satu tarikan napas… Putus asa. Gendang telinganya menangkap jerit tangis meneluwung tak bertepi. Badannya terguncang-guncang. Suara-suara teriakan, derit roda, suara-suara sepatu. Kemudian sepi. Senyap. Di manakah? Mungkinkah Tuhan…

 

Satu kejaiban terjadi: ia menangkap mata Ratri, mata isterinya, mata Basuki. Kemudian badannya melambung ingin meraup. Sebuah tangan kokoh menahannya.Rantawi harus beristirahat, lamat-lamat katanya. Aneh, ia merasa betapa dadanya teramat lapang. Napasnya longgar tak tersumbat bunyi cengik menjijikkan. Kepala dan tubuhnya ringan. “Dua hari engkau pingsan,” begitu kata pertama ia dengar. Suara isterinya. Betulkah ia masih hidup? Rantawi ingin berteriak, “Kenapa aku di sini? Betulkah kamu Ijah? Di manakah aku?””Asmamu kumat,” isterinya menjelaskan. “Aku membawamu ke rumah sakit. Sudahlah Kang, istirahat yang tenang. Kata dokter, asmamu kemungkinan besar sembuh. Entah kenapa.” Tuhan maha adil, begitulah ketika Rantawi tersungkur dalam sujud. Mohon ampun dan penyesalan atas sangka buruk. Tiga hari setelah berbaring di Rumah Sakit dan dinyatakan sembuh total. Empat ekor kambing disembelih sebagai rasa syukur, dan seluruh kampung turut menikmatinya. Juga tentu, Basuki. Keluarga Mayor Sulaiman telah datang turut mengucapkan gembira dan minta maaf. Tuhan maha besar.

 

***

 

SEHARI setelah syukuran, Wardoyo ditangkap. Berita menjalar cepat dari mulut ke mulut. Wardoyo membunuh Abah Marta dengan secangkir kopi dan racun babi! Pembunuhan amat keji, begitu komentar mereka. Mayat Abah Marta ditemukan membiru. Visum menyebutkan ususnya hancur membusuk. Orang-orang kampung mengutuk Wardoyo. Melemparinya dengan batu: “Kafir! Mertuamu sendiri tega kau bunuh, heh?” ramai berteriak. Riuh menggelandang Wardoyo, “Kau bunuh atas dasar apa, Wardoyo?” “Rantawi. Demi Allah, Mang Rantawi yang menyuruhku…” Rantawi terbadai. Rantawi hanya bisa mematung, tak mampu berbuat apa-apa. Teror datang menyerganya begitu tiba-tiba. Sungguh ia begitu menyesal, amat menyesal telah menceritakan seluruh rahasia kesembuhannya pada Wardoyo, adik iparnya. “Racun babi,” begitu ia menceritakan dengan mantap: “Entahlah. Segala obat telah diupayakan; tapi justru racun babi yang membikin aku sembuh. Heh, bukankah mertuamu menderita asma sepertiku?” “Bagaimana kalau ia mati?” “Tuhan telah menunjukkan sebuah keajaiban. Bahkan di dalam racun babi, bisa terdapat obat. Obat mujarab. Masih tidak percayakah kamu, Wardoyo?” Dan kini ia sangsi. Diam-diam Rantawi merasa, ia ikut bandil besar dalam pembunuhan Abah. Berhari-hari Rantawi tak sudi makan. Sampai ketika polisi datang menjemputnya untuk ditanyai: “Demi Allah, saya tidak berkomplot untuk membunuhnya!” katanya.Keras. Dan tubuh Rantawi digelandang hina. Riuh hantaman puluhan caci; orang-orang kampung bergimbung. Menuding berteriak. Kelebat bayangan Ratri ambruk. Lalu Ijah? Bergetar. Keringat dingin memercik. Gusti Allah… bayangan yang buruk. Ia seperti melihat betapa Tuhan kini tengah bergitung; menjawab tantangannya ketika ia memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Dan kini Rantawi dipaksa menggigil, tersentak berteriak: “Alangkah lebih terhormat mati ketimbang terhina di penjara…”

 

 

 

Pada cerpen tuhan, bolehkah saya bunuh diri? Memiliki tema salah faham karena ada unsur salah paham yang menyebabkan kematian yang tidak disengaja, didalam cerita ada wardoyo yang baik hati yang ingin menyembuhkan abah marta yang sedang sakit asma kronis , rantawi tetangga dari wardoyo menceritakan tentang kesembuhannya dari asma dengan meminum racun babi kepada wardoyo. Latar tempat cerita adalah di rumah abah marta dan rumah rantawi , sudut pandang cerpen ini adalah tokoh utama menjadi pelaku utama yang mengajarkan kita tentang  keberuntungan memang terjadi pada semua orang, tetapi keberuntungan seseorang berbeda beda , jadi jangan meniru keberuntungan orang lain karena belum tentu keberuntungan kita sama dengan orang lain

 

Alasan joni ariadinata menulis cerpen tuhan, bolehkah saya bunuh diri?  Adalah segi sosial  karena joni ariadinata berteman dengan seorang  penulis, kehidupannya runyam, karna itu karyaanya dilambangkan dengan simbol,tanda,pemaknaan

Segi agama dalam kehidupan kesehariannya joni sangat lugu , miskin dan religius yang kental

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s