Analisa cerpen seno gumira ajidarma Judul : Pelajaran Mengarang, Oleh: Achmad Ardiansyah

Analisa cerpen seno gumira ajidarma

Judul : Pelajaran Mengarang

 

Pelajaran mengarang sudah dimulai.

Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.

Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.

Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.

Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.

“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

***

 

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.

“Mama, apakah Sandra punya Papa?”

“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”

Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.

Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.

“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.

Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.

“Anak siapa itu?”

“Marti.”

“Bapaknya?”

“Mana aku tahu!”

Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.

“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”

“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”

Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

***

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.

Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.

“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”

Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.

“Mama kerja apa, sih?”

Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.

Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”

Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.

“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”

“Seperti Mama?”

“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”

Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …

Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.

     

DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00

 

Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

***

Empat puluh menit lewat sudah.

“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.

Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.

Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.

“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.

Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.

Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.

“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.

Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:

Ibuku seorang pelacur…

 

UNSUR2 DALAM CERPEN “PELAJARAN PENGARANG”

  1. Unsur-unsur Intrinsik

 

Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik pada sebuah cerpen adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta dalam membuat cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah cerpen berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah cerpen.

Unsur yang dimaksud untuk menyebutkan sebagian saja, misalnya cerita, peristiwa, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.[5] Berikut unsur-unsur intrinsik dalam cerpen Pelajaran Mengarang :

  1. Tema

Tema dalam sebuah karya sastra, fiksi hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangunan cerita yang lain, yang secara bersama membentuk sebuah kemenyeluruhan.[6] Tema juga menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu dari awal sampai akhir.

Tema dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah mengenai Kehidupan Sosial yang dialami oleh satu keluarga yang dimana seorang Ibunya itu bekerja sebagai seorang pelacur dan anaknya baru duduk di bangku kelas V SD. Cerpen ini juga mengisahkan bahwa keadaan sosial atau pekerjaan dan lingkungan keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan dasar karakter seorang anak.

 

 “..Ketika berpikir tentang keluarga kami yang bahagia, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan seketika sandra pulang dari sekolah.”

“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama!.” (hal. 1)

 

Kutipan diatas menunjukan bagaimana Sandra dapat menulis karangan tentang kebahagiaan keluarga, jika kehidupan sehari-hari yang Ia alami sama sekali tidak menunjukan kebahagiaan yang semestinya diciptakan dalam lingkungan keluarga. Keadaan rumah yang berantakan dengan benda-benda yang tidak seharusnya ia jumpai di masa anak-anak sehingga ia tidak mempunyai keluarga yang harmonis, hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak.

 

 

  1. Alur

Alur atau plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahap-tahap peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.[7] Alur dalam cerpen Pelajaran Mengarang itu menggunakan alur campuran dimana terdapat alur maju dan mundur di dalam cerita tetapi lebih dominan menggunakan alur mundur karena Sandra selalu membayangkan tentang 3 judul yang di berikan oleh Ibu Guru Tati. Berikut urutan plot dalam novel ini :

 

 

  1. a)Tahap Awal

Tahapan awal merupakan tahap perkenalan atau berisi sejumlah informasi penting seperti penunjukan dan pengenalan latar, seperti nama tempat, suasana alam waktu kejadiannya dan juga deskripsi fisik perwatakan. Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini tahapan awal itu dimulai dari murid-murid kelas V SD yang sedang mengikuti pelajaran mengarang di dalam kelas yang diarahkan oleh Ibu Guru Tati, Ibu Tati adalah seorang guru yang berkaca mata tebal.

“..Dari balik kaca matanya yang tebal, Ibu guru Tati memandang 40 anak yang manis yang masa depanya masih panjang.” (hal. 1)

Dan di dalam cerita ini tokoh Sandra di gambarkan sebagai siswa yang tidak menyukai pelajaran mengarang, karena sandra selalu mendapatkan kesulitan besar karena ia benar-benar harus mengarang. Sandra merupakan anak yang terlahir dan memiliki Ibu yang bekerja sebagai pelacur. Sandra selalu sabar menghadapi sikap Mamanya karena setiap hari Sandra selalu mendapatkan perilaku yang kasar dari Mamanya. “..Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama.” (hal. 1)

Sandra pun selalu dititipkan oleh Mami (yang Sandra anggap sebagai Neneknya), Mami juga memiliki watak yang pemarah.

“..Jangan rewel anak setan! nanti kamu kuajak ke tempat ku kerja, tapi awas ya? kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!.” (hal. 2)

 

  1. b)Tahap Tangah

Tahap tengah adalah tahap dimana menampilkan pertentangan atau konflik, peristiwa-peristiwa penting mulai dikisahkan dan konflik berkembang semakin runcing. Kertas yang ada di hadapan Sandra masih terlihat kosong pada menit ke 15, Sandra masih tidak tahu harus menulis tentang apa. “Keluarga Bahagia” selama ini yang Sandra tahu dia hanya tinggal bersama dengan Mamanya tidak ada sosok Papa. Pernah Sandra menanyakan hal itu terhadap Mamanya tetapi balasanya adalah :

“..Tentu saja punya anak setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa Papa! Taik Kucing dengan Papa!” (hal. 2)

 

“Liburan ke Rumah Nenek” yang Sandra tahu Nenek dalam benaknya adalah gambaran seorang wanita tua yang wajahnya penuh dengan kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna tebal. Mami selalu mengajak Sandra ke tempat yang Sandra tidak mengerti yang dipenuhi dengan wanita-wanita dewasa yang tidak canggung lagi untuk berpeluk-pelukan sampai lengket.

Tiba saatnya Sandra menggambarkan “Ibu” yaitu “…gambaran seorang wanita cantik yang selalu merokok dan mabuk-mabukan dan selalu bangun siang” (hal 2). yang selalu berkata kasar terhadap Sandra seperti “..Diam, anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” (hal 3). Mama Sandra juga sebenarnya seorang yang penyayang.

“…Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng dan ayam goreng. Dan setiap kali wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta.” (hal 3).

Tetapi Mamanya tidak selalu berprilaku manis terhadapnya. Sandra lebih sering melihat Mamanya bertingkah pemarah.

 

  1. c)Tahap Akhir

Berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran tentang bagaimanakah akhir sebuah cerita. Di dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini kesudahan cerita terletak pada “..Empat puluh menit lewat sudah, pelajaran mengarang berlangsung. tetapi belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda.” (hal 4). Tetapi beberapa teman Sandra sudah banyak yang mengumpulkan dan sudah berjalan meninggalkan kelas.

Setelah waktu habis Ibu Guru Tati menyuruh semua kertas untuk dikumpulkan kedepan. Kertas Sandra pun Ia selipka di tengah-tengah kertas teman-temanya. Ibu Guru Tati tidak mengetahui bahwa di kertas putih dalam pelajaran mengarang itu Sandra hanya menuliskan kata “

“… Ibuku Seorang Pelacur.” (hal. 4).

 

  1. Latar

Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita dan dalam lakuan karya sastra.[8] Berikut latar dalam cerpen Pelajara Mengarang.

Ø Latar Tempat

  • Kelas

…Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas.” (hal. 1).

“…Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas.” (hal. 2).

“…Beberapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkan segera berlari keluar kelas.” (hal. 4).

  • Rumah

“..Sandra mendapatkan gambaran sebuah rumah berantakan.” (hal. 1).

“..Ini titipan si Marti. Aku tak mungkin meninggalkanya sendri di rumah.” (hal. 2).

“..Di rumahnya sambil nonto RCTI, Ibu Guru Tati memeriksa pelajaran murid-muridnya.” (hal. 4).

  • Sekolah

“..Bahkan ketika Sandra pulang dari Sekolah.” (hal. 1).

  • Hotel

“..Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomer kamar dan sebuah jam pertemuan, Ibunya akan pulang terlambat,” (hal. 4).

  • Plaza

“..Setiap hari minggu, wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini dan plaza itu.” (hal. 3).

  • Ruang Depan

“..Di ruang depan, Ia muntah-muntah.” (hal. 3).

  • Tempat Tidur atau Ranjang

“..Botol-botol beresakan di meja bahkan sampai ke tempat tidur.” (hal. 1).

“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika dipindahkan di kolong ranjang.” (hal. 4).

“..Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhanya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang.” (hal. 4).

 

Ø Latar Waktu

  • 60 menit“..Kalian punya waktu 60 menit.” (hal. 1)
  • 10 menit “..Sepuluh menit segera berlalu.” (hal. 1)
  • 15 menit “.. Lima belas menit telah berlalu.” (hal. 1)
  • 20 menit “..Dua puluh menit telah berlalu.” (hal. 2)
  • 30 menit “..Tiga puluh menit lewat tanpa permisi.” (hal. 2)
  • Malam

“..ia pernah terbangun malam-malam.” (hal 3)

“..Suatu malam wanita itu pulang merangkak karena mabuk.” (hal. 3).

“..Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong meja.” (hal. 4).

  • Hari Minggu

“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu.” (hal. 3).

 

Ø Latar Suasana

  • Hening atau Sepi

“..Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati.”

“..Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayaap yang anggun.”

  • Mencekam atau Menakutkan

Suasana dimana Sandra merasa takut

“..Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras.”

  • Sedih

“..Sandra pernah terbangun malam-malam melihat wanita itu menangis sendirian, dan wanita itu menangis sambil memluk Sandra.”

“.. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama..” Dan pipinya basah oleh air mata.”

  • Haru

“..Kadang-kadang sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji manjadi anak baik-baik.” (hal. 3).

  • Gembira

Perasaan Senang yang dialami Sandra

“..Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau itu. Disana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng.” (hal, 3).

  • Serius

“..Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”. (hal. 1).

  • Bimbang

“.. Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang.”

  • Resah

“..Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengeti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.”

 

  1. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam cerita fiksi. Nurgiantoro (1995) mengatakan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita fiksi dibedakan dalam beberapa jenis berdasarkan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan sudut pandangan dan tinjauan, seperti tokoh utama dan tambahan, tokoh protagonis, antagonis, tokoh sederhana dan tokoh bulat, tokoh statis dan tokoh berkembang serta tokoh tipikal dan tokoh netral.

Peranan dan fungsi tokoh menurut teori umum tentang novel, cerpen, dan drama sangat penting untuk memahami seluk beluk novel, cerpen dan drama tersebut (Laurenson dan Swingewood, 1972 : 1993).[9] Dalam cerpen Pelajaran Mengarang ini terdapat 5 tokoh yaitu : Sandra, Bu Guru Tati, Marti (Mama Sandra), Mami, dan anak-anak kelas V SD (teman-teman Sandra). Analisis masing-masing tokoh tersebut adalah sebagai berikut :

 

  1. Sandra

Sandra merupakan seorang anak kelas V SD yang berumur 10 tahun yang terlahir sebagai anak seorang pelacur. Karakter Sandra aalah pendiam, lugu, sabar, patuh, penurut dan dia sangat sabar menghadapi sikap Mamanya.

“..Tapi Sandra 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya.” (hal, 1).

“…Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh.” (hal. 3).

Tetapi Sandra juga membenci Ibu Tati.

“…Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci, Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang”. (hal, 1).

 

  1. Ibu Guru Tati

Ibu Guru Tati adalah guru Sandra di kelas V SD, Ibu Guru Tati seorang guru yang selalu memberikan materi tentang pelajaran mengarang yang dibenci oleh Sandra. Ibu Guru Tati pun seorang guru yang sabar, berkacamata tebal dan belum berkeluarga.

“…Dari balik kacamatanya yang tebal, Ibu Guru Tatni memandang 40 anak yang manis”. (hal. 1).

“…Di rumahnya, sambil menonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya”. (hal. 4).

 

  1. Marti (Mama Sandra)

Marti ini adalah Ibu Sandra yanng bekerja sebagai seorang pelacur, dia sangat cantik tetapi sering merokok dan mabuk-mabukan. Sifatnya dia adalah pemarah, tetapi juga sebenarnya ia memiliki rasa penyayang terhadap Sandra tetapi tidak setiap harinya juga Ia bersifat manis terhadap Sandra.

“…Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berfikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan kanana dan kaki kananya selalu naik keatas kursi.” (hal. 2).

“…Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa1 Taik Kucing dengan Papa!.” (hal. 2)

“…Tentu saja Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krrim sambil berbisik, “Sandra, Sandra…”Kadang-kadang Sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan sebuah cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya untuk berjanji menjadi anak baik-baik (hal. 3).

 

  1. Mami

Mami ini adalah seorang wanita yang wajahnya penuh keriput dan selalu merias dirinya dengan sapuan warna yang tebal

“…Sandra mencoba berfikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan Ke Rumah Nenek” dan yang masuk ke dalam benaknya adalah seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra”. (hal. 2).

Mami ini juga adalah orang yang dianggap Sandra sebagai Nenek, padahal Mami ini seorang germo atau mucikari. Sifat Mami ini adalah kasar, pemarah dan juga dia selalu mengancam Sandra.

“…Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempat kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti ? Awas!”. (hal. 2)

“…Ini titipan si Marti. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah. Diperkosa orang malah repot nanti.” (hal.2 )

 

  1. Anak-anak kelas V SD

Teman-teman Sandra tidak terlalu banyak diceritakan, tetapi Ibu Guru Tati memandang Anak-anak keas V SD itu atau murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.

“…Di rumahnya sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.” (hal. 4).

 

 

Sudut Pandang

Sudut Pandang adalah penempatan isi penceritaan dalam kisah. Sudut pandang merupakan cara dan pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi terhadap pembaca (Abrams, 1981 : 142).[10] Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan. Sebelum pengarang menulis cerita, mau tak mau harus telah memutuskan memilih sudut pandang tertentu.[11]

Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah orang ketiga serba tahu, diamana pengarang sama sekali tidak ikut berperan dalam cerpen, namun dapat menceritakan dan menggambarkan dengan jelas situasi perasaan yang dimiliki pelaku. Penyebutan nama atau kata ganti “Ia, dia, mereka” merupakan sudut pandang orang ketiga.

“…Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar di tiup angin kencang. Ingin rasanya Ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya.” (hal. 1).

 

  1. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah gaya penulisan (dialek), pribahasa dan unsur-unsur lain yang terkandung dalam cerita. Gaya bahasa juga merupakan suatu cara untuk menuansakan dan menyelaraskan bahasa agar terjalin keindahan dan pertautan antara paragraf satu dengan yang lainnya.

Gaya bahasa dalam cerpen Pelajaran Mengarang yaitu :

 

  1. a)Hiperbola

“…Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja”. (hal. 1)

Kutipan di atas menunjukan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan, seperti pada menulis dengan kepala hampir menyentuh meja, seharusnya cukup ditulis dengan anak-anak itu menulis dengan serius.

 

 

 

  1. b)Sarkasme

“…Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” (hal. 1).

Dari kutipan diatas penyebut Anak Setan dan Taik Kucing menunjukkan kekasaran dalam berbahasa, bahasa yang seharusnya tidak diucapkan untuk memaki. Meskipun gaya bahasa yang digunakan bersifat Hiperbola dan Sarkasme namun mayoritas gaya bahasa yang digunakan dalam menyampaikan gagasan dan ide pengarang bersifat lugas dan jelas, sehingga semua yang membaca dapat memahami isi cerita tersebut.[12]

 

  1. Amanat

Amanat yang terkandung dalam cerpen Pelajaran Mengarang adalah bagaimana kita seharusnya bisa merawat anak dengan baik, kalau memang Orang Tua itu sudah terlanjur masuk ke dalam dunia yang tidak baik tetapi Orang Tua itu akan berfikir jangan sampai anak kita juga bernasib sama seperti Orang Tuanya. Memang Tekanan batin sangat dialami oleh Sandra tetapi seburuk-buruknya seorang Ibu dia tetaplah Ibu kita yang menyayangi kita dan melahrikan kita. Sikap yang ditunjukan Sandra adalah selalu patuh terhadap Ibunya walaupun tidak dipungkiri Ia sering mendapatkan kata-kata dan juga perlakuan kasar dari Ibunya.

Banyak nilai moral yang harus di petik dalam cerpen ini, seperti :

“…Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik.” (hal. 3).

dalam kutipan ini Mama Sandra menyuruh Sandra agar menjadi wanita yang baik yang tidak seperti Mamanya karena Mamanya tidak ingin kelak Sandra menjadi seperti dirinya, yang hidup di kehidupan malam yang penuh dengan musik-musik keras dan selalu di tonton dengan berjuta pasang mata lelaki.

 

 

 

  1. Simpulan

Dari cerpen Pelajaran Mengarang ini dapat disimpulkan bahwa kita bisa merasakan bagaimana kesedihan yang dialami Sandra yang hidup dalam lingkungan yang tidak baik, yang memiliki Ibu seorang pelacur. Setelah membaca cerpen ini pasti pembaca akan bisa merasakan simpatik terhadap Sandra karena sikap dan sifat Sandra yang selalu sabar dan tetap menghormati Ibunya walau kadang kala Ibunya itu mengeluarkan kalimat-kalimat yang kasar terhadapnya.

Keluarga merupakan pusat pendidikan utama yang di dapat seorang anak, perannya sangat kuat dalam pembentukan karakter anak, keadaan keluarga yang berantakan yang di alami Sandra membawa dampak yang negatif bagi perkembangannya, seperti ketika tiba pelajaran mengarang yang diberikan oleh Ibu Guru Tati tentang 3 judul tersebut, Sandra tidak mampu mengarang karena dia memang benar-benar tidak merasakan hal seperti itu di dalam kehidupannya.

 

CERPEN LAIN….

https://duniasukab.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/

https://duniasukab.com/2007/04/25/saksi-mata/

https://duniasukab.com/2008/06/01/patung/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s